Selingkuh

selingkuh

“Kamu lihat sendiri di Televisi, gara-gara selingkuh akhirnya si istri membunuh suaminya sendiri,” ujar Agus kepada istrinya sambil menunjuk berita yang dimaksud dengan remot.

 

“Iya, Mas. Padahal konflik di rumah tangga harusnya dibicarakan baik-baik, bukan asal bunuh seperti itu. Mungkin karena stress desakan ekonomi, katanya suami jarang menafkahi istri dan si istri hanya buruh cuci dan harus memberikan tiga anaknya makan. Pasti berat,” jawab Ayu.

 

“Jadi, menurutmu salah suaminya begitu?” Agus meradang.

 

“Bukan. Maksudku salah dua-duanya, Mas. Apa pun masalahnya, lebih baik dibicarakan dan diselesaikan berdua. Oh iya, Mas sudah minum obat?”
 

“Aku sedang membicarakan berita, kenapa kamu membahas obat? Mau mengalihkan pembicaraan, ya? Sebaiknya kita pecat saja Bayu dan usir dari rumah ini. Aku kesal kamu diantar pulang pergi olehnya.”

 

“Mas, Bayu kan memang supir pribadi kita. Kalau aku usir dia, lalu aku pulang sendiri dan naik angkutan umum, pengeluaran kita makin bertambah. Sudah cukup banyak pengeluaran untuk pengobatan—“

 

“Cukup! Kamu ini selalu saja berdalih ini itu. Kamu menentang suamimu sendiri!”

 

“Ya, Mas. Aku minta maaf. Sekarang, bagaimana kalau kita minum obat dulu sebelum tidur?”

 

“Kamu membahas itu lagi. Sudahlah, aku mau tidur.”

 

“Tapi, Mas ….”

 

Agus mengabaikan istrinya dan melangkah masuk ke kamar. Di kamar, pikirannya semakin pelik. Ayu awalnya hanya karyawan yang bertugas mengurus pembukuan keuangan. Lalu, perlahan karirnya melesat setelah dipercaya menjadi kepala kantor kas, lalu berlanjut menjadi komisaris, dan akhirnya dipercaya menjadi direktur utama hingga hari ini. Perjalanan karir yang jela berbeda dengan Agus. Meski begitu, mereka saling mencintai. Hingga cinta itu perlahan memudar, setidaknya begitu yang Agus lihat dari Ayu.

 

Setiap hari, Agus melihat Ayu dan Bagus tampak dekat seolah ada hubungan khusus di antara keduanya. Jika bukan selingkuh, maka Agus tidak tahu lagi nama yang tepat untuk hubungan mereka. Bagus selalu bangun pagi untuk menjemput dan tepat waktu ketika mengantar pulang, kadang diiringi basa-basi menanyakan kabar Agus yang membuat ia semakin muak.

 

“Setelah pulang dari dokter, Pak Agus tampak lebih terkontrol ya, Bu.”

 

“Kalau Ibu mau, saya bisa berjaga di malam hari jika diperlukan.”

 

Serta basa-basi lainnya yang ingin rasanya Agus mengusir. Tapi Ayu selalu merespons dengan ketenangan khasnya dan si supir selalu menang dengan kembali tidur nyenyak di kamar.  Perasaan cemburu itu membuat Agus kelelahan sendiri dan hilang kesadaran.

 

“Ayu, mau apa kamu?” tanya Agus yang tersentak bangun karena Ayu mengosok-gosok pisau ke lengan tangannya.

 

“Mas,urat nadimu sebaiknya dirobek saja. Aku ingin menikah dengan Bagus, tidak lagi denganmu!”

 

Agus menjerit ketika Ayu menyayat nadi tangannya secara sadis dengan pisau dapur yang tajam. Ia masih bisa melihat darah segar menyembur keluar. Ada senyum kepuasan di wajah Ayu ketika melakukannya seolah ia sudah menanti ribuan tahun untuk melaksanakan misinya. Dengan sisa tenaga, Agus menarik tangannya, berguling di kasur untuk menjauhi istrinya tersebut, dan saat itu tubuhnya terjatuh ke ubin serta menyadarkannya.

 

Mimpi? tanya Agus yang kini benar-benar tersadar. Ia melihat kedua tangannya. Tidak ada yang berdarah. Dengan linglung, Agus mengintip ke atas kasur dari posisi duduknya yang tak nyaman. Tidak ada Ayu di kasur. Apa istrinya sedang mengambil pisau di dapur? Tidak. Ia tidak boleh mati. Sebaiknya Agus yang membunuh istrinya yang selingkuh itu.

 

Sambil mengendap-endap, Agus menyelinap di dapur. Tidak ada istrinya. Tanpa pikir panjang, Agus mengambil sebilah pisau dan berjalan keluar arah televisi yang dekat pintu keluar masuk. Tempat terakhir mereka mengobrol. Ayu ternyata tertidur di sofa sambil memeluk foto mereka. Dasar wanita penuh muslihat! Agus segera mengangkat pisaunya untuk menghujamkannya ke dada Ayu. Tapi belum juga ia menusuknya, seseorang menghantam kepalanya begitu keras. Hingga Agus tersungkur dan pisaunya terjatuh. Ketika ia ingin mengambil pisau tersebut, seseorang dari arah belakang langsung mengunci pergerakkan tangannya ke belakang pinggang.

 

Ayu yang mendengar keributan itu langsung terbangun. Matanya terbelalak melihat kejadian di depan matanya. Seketika ia menelpon rumah Pak RT untuk meminta pertolongan.

 

“Pak Agus kumat lagi, Bu. Saya sedang keluar kamar ingin mengambil minum, tapi saya lihat Pak Agus membawa pisau dan menghampiri Ibu. Beliau ingin melakukan hal buruk lagi makanya saya menceganya,” kata Bagus begitu cepat karena ketakutan.

 

“Mas ….” Ayu memanggil suaminya dengan perasaan penuh kepiluan.

 

“Dasar pengkhianat! Tukang selingkuh! Aku tahu kalian berdua berselingkuh, kan? Ayu, aku tahu kamu ingin membunuhku, kan? Supaya kamu bisa kawin dengannya.” Agus meronta dengan kasar ingin membebaskan diri sambil memaki.

 

Ayu meneteskan air mata dan mengeluarkan borgol dari nakas televisi, serta memasangkannya ke tangan suaminya sambil bertanya penuh isakan. “Mas, kapan kamu sembuh? Kapan halusinasimu berakhir?”

 

Agus mengernyitkan kening. Istrinya benar-benar gila. Lalu, Pak RT dan beberapa warga datang. Mereka berbisik-bisik ke Ayu dengan begitu kentara.

 

“Ayu, ceraikan saja suamimu dan rawat inap ia di rumah sakit jiwa. Sudah tiga kali pada bulan ini suamimu sendiri ingin membunuhmu. Skizofrenianya tampak semakin parah.”

 

Mungkin bukan hanya istrinya yang gila, pikir Agus. Semua orang memang gila.

 

#CerpenMisteriRamadan